photo_2020-06-22_13-54-30

Sebelumnya saya mohon maaf jika part 3 dari perjalanan karir saya di bank bjb baru saya tuliskan tujuh tahun setelah part 2 ditulis. Dan posisi saat ini saya sudah resign dari bank bjb. Oleh karena itu, cerita tentang bank bjb di edisi kali ini adalah seputar kenapa saya resign.

Kenapa resign?

Jujur saja, ini bukan keputusan yang gampang, tapi keputusan yang dilandasi emosional. Hehe. Ya, saya kilas balik dulu ke awal mula masuk bank bjb.

Saya mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai bank bjb kurang lebih enam tahap mulai dari administrasi hingga wawancara akhir dengan total waktu sekitar enam bulanan.

Singkat cerita saya masuk ke tahap verifikasi data, tahap terakhir yang harus dijalani. Namun di hari verifikasi ada sedikit musibah yang terjadi. KTP saya hilang, entah di jalan atau di angkot. Saat itu saya langsung ke polsek untuk membuat laporan kehilangan.

Tim verifikasi bank bjb waktu itu menghendaki KTP asli. Saya sebagai orang luar kota, tentu nggak mungkin balik saat itu. Sementara waktu verifikasi yang disediakan adalah tiga hari. Hm… mana bisa ngurus KTP tiga hari langsung jadi, apalagi saat itu belum ada KTP elektronik.

Pertolongan Allah pun datang melalui seseorang yang sudah saya kenal sejak kuliah. Beliau orangnya memang baik. Ia bersama suaminya akhirnya menolong saya membuatkan KTP dan dua hari jadi. Alhasil di hari terakhir verifikasi, saya bisa menyerahkan berkas secara lengkap ke bank bjb.

Dan alhamdulillah saya diterima menjadi calon pegawai bank bjb. Jumlahnya sekitar 700 orang dari puluhan ribu pendaftar sejak awal pendaftaran dibuka.

Menapaki 1 Tahun Perjalanan Karirku di bank bjb (Part 1)

Hari-hari berlalu, hingga tiga tahun berselang, orang yang menolong saya membuatkan KTP itu datang ke bank bjb menemui saya untuk satu urusan. Saat itu beliau datang jam 11 siang dan sedikit memaksa untuk ketemu saat itu juga.

Tentunya saya tidak bisa karena jam 11 siang masihlah waktu kerja dan saya pun memintanya menunggu hingga pekerjaan saya selesai. Sebelum ini saya selalu menginformasikan jika ingin berkunjung bisa di jam makan siang. Toh, saya nggak pernah lupa sama siapa pun yang pernah berjasa dengan hidup saya.

Tapi pertemuan inilah yang menjadi titik balik semuanya. Saat saya menemuinya, tanpa basa-basi beliau bilang ‘Kok kamu sombong ya, ditemui susah, kalau bukan karena saya kamu nggak akan bisa kerja di sini (bjb)’.

Entah kenapa saya sakit hati banget saat itu. Entah kenapa saya susah sekali mengontrol hati ketika orang mengungkit kebaikan yang pernah diberikannya. Alhasil pertemuan untuk membahas sesuatu itu pun terlupakan.

Setiap hari kata-katanya selalu terbayang-bayang. Saya tidak ingin merasa tergantung dengan orang lain yang membuatnya bisa semena-mana. Saya sadar, saya bisa memilih untuk mengabaikannya, tapi saya selalu tidak tenang.

Hingga akhirnya dua bulan setelah pertemuan itu, saya mengajukan resign. Orang-orang di tempat kerja sebetulnya baik-baik. Bahkan, beberapa di antara mereka (termasuk atasan langsung) saya meminta saya berpikir ulang keputusan ini. Tapi entah kenapa hati saya begitu sakit. Dan serasa tidak tenang menjalani hari.

Akhir 2014 itulah saya resmi nggak lagi bekerja di bank bjb. Saya merasa bebas dari kata-katanya yang menyakitkan, tapi rupanya saya menghadapi hari yang juga gelap (belum tahu kedepannya seperti apa).

Saya belum berani memberitahu orangtua saya perihal ini. Entah saya harus beralasan apa, dan bagaimana perasaan orangtua saya. Anak yang ia selalu bangga-banggakan, justru malah mengecewakannya.

Mungkin bekerja di bank bukan sebuah pencapaian yang prestise, tapi bagi saya anak kampung yang waktu sekolah beli buku paket saja ngutang, bisa mendapat pekerjaan yang baik secara finansial, tentu hal yang sangat besar.

Dari hasil kerja, saya bisa membantu orangtua dan juga membantu sedikit biaya kuliah adik saya. Seketika saya merasa berdosa kepada orangtua saya.

Hari-hari di kost, dijalani hampa tanpa makna. Mau sampai kapan bersembunyi? Akhirnya tiga bulan setelah resign, saya berani bicara jujur sama ibu saya. Tapi saya heran, kenapa ibu saya malah sudah tahu. Nggak mungkin ‘kan direktur bjb yang ngasih tahu?


Pengalaman resign ini saya tulis tidak untuk saling menyalahkan, toh semuanya sudah berlalu. Saya hanya menjadikan tulisan ini untuk pengingat diri saya sendiri atas apa-apa yang pernah saya putuskan dalam hidup.

Dan semoga selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari setiap kepingan kehidupan yang Allah berikan kepada kita, Aamiin YRA.

Note: Judulnya 1 tahun biar senada dengan dua part sebelumnya. Hehe
Topics #karir