Tags

, , ,

jembatanpensilcover

     Sebuah jembatan yang biasa digunakan anak-anak untuk sampai ke SD Towea akhirnya runtuh. Nia, Yanti, Azka dan Inal adalah empat murid SD Towea yang harus merasakan jatuh dari jembatan hingga harus berenang menyelamatkan diri dan membiarkan peralatan sekolahnya terbawa arus sungai. Kisah ini ada dalam film Indonesia terbaru yang mulai tayang tanggal 7 September 2017, Jembatan Pensil. Bagaimana kisah mereka selanjutnya?

     Di SD Towea mereka berempat berteman dengan Ondeng seorang anak nelayan yang memiliki kebutuhan khusus. Ondeng mengidap keterlambatan pikiran bahkan seharusnya ia sudah lulus 3 tahun sebelumnya. Di kelasnya ada satu lagi tokoh Attar. Ia adalah yang menjadi penganggu untuk Ondeng dan keempat rekannya.

     Jika melihat situasi yang ada pikiran kita akan disuguhkan pada film semisal Laskar Pelangi yakni bagaimana usaha dan perjuangan anak-anak daerah untuk menggapai pendidikan dan mimpinya. Jembatan Pensil (selanjutnya JP) tidak berfokus ke sana. Sedari awal, JP ingin mengajak penonton menyelami kehidupan Ondeng yang mengalami keterlambatan pikiran itu. Apakah JP akan menjadi eksploitasi anak-anak disabilitas?

Kecerdasan Interpersonal ala Ondeng

     Setiap manusia sudah diberikan kelebihan sekaligus kekurangannya oleh sang Maha Pencipta. Ondeng yang nilai matematikanya hanya mendapat angka 2 (mungkin dari 10, tapi bisa jadi dari 100, heheh) justru pandai menggambar. Di titik inilah JP terus menerus menyelami tokoh Ondeng.

     Selain pintar menggambar Ondeng juga tumbuh menjadi remaja yang peka terhadap lingkungan sekitar pun peduli terhadap teman-temannya. Setiap hari ia menunggui teman-temannya yang menyeberang jembatan di ujung jembatan untuk memberikan semangat. Tak kalah pula ia menolong Attar yang sempat terjatuh kala mereka naik bukit, padahal Attar selalu mengolok-oloknya.

     Meminjam teori Howard Gardner mengenai 8 Kecerdasan Manusia, Ondeng termasuk yang memiliki Kecerdasan Interpersonal yang tinggi. Kecerdasan Interpersonal bisa diartikan kecerdasan seseorang dalam memahami orang lain. Hingga akhir film, JP konsisten memegang Ondeng sebagai benang merah film.

Lokalitas

     Film ini bersetting di Muna, Sulawesi Tenggara. Saya belum pernah ke daerah tersebut, namun yang pasti bagaimana penata kamera, Ilham Firdaus, mengambil gambar alam dan laut menambah emosi JP yang cinta terhadap negerinya.

     Kehadiran para cast utama yang juga penduduk lokal di sana selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk film Indonesia genre seperti ini. Didi Mulya (Ondeng), Nayla D. Purnama (Nia), Angger Bayu (Inal), Permata Jingga (Yanti) dan Azka Marzuqi (Azka) adalah anak-anak lokal yang baru pertama kali bermain film layar lebar.

     Berfokus pada Ondeng, empat karakter lainnya menunjang cerita JP. Yang disayangkan adalah karakter Inal yang dibuat tunanetra. Hingga film berakhir, karakter tunanetra Inal tidak berdampak apa-apa selain hanya untuk dialog “Inal tidak bisa melihat, tapi hati Inal melihat. Bu Guru Cantik“. Dialog itu disampaikan kepada guru baru Aida (Alisia Rininta). Padahal karakter Inal tidak perlu dibuat sebagai penyandang disabilitas juga. Mungkin JP meniatkan bahwa tunanetra pun memiliki semangat untuk sekolah. Bagus niatnya, tapi secara keseluruhan sudah terwakili oleh karakter Ondeng.

     Didukung oleh para aktor nasional seperti Agung Saga, Kevin Julio hingga Meriam Bellina, JP tidak kehilangan rasa lokalnya. Pastinya mereka berlatih keras untuk bisa sama dengan orang Muna terutama dari segi penampilan dan logatnya.

     Sebagai film yang mengusung tema anak dan pendidikan juga mengeksplorasi daerah Indonesia bagian Timur, kehadiran JP terbilang layak apresiasi. Setelah rumah produksi ALENIA PICTURES yang rutin memproduksi film-film seperti ini vakum dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran JP bisa menjadi oase di tengah keringnya film-film yang memberikan sudut pandang dan pengetahuan baru tentang sisi Indonesia yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

     Seperti jembatan pensil yang dibuat menyerupai pensil. Jembatan ini adalah impian sekaligus kepedulian Ondeng terhadap teman-temannya. Setiap uang yang dikasih oleh ayahnya, Ondeng selalu menabungnya dengan harapan ia bisa membuat jembatan pensil tersebut.

     Impian Ondeng terwujud. Ia adalah arsitek untuk jembatan itu. Jembatan pensil dibangun atas gambar yang ia buat. Impiannya sederhana namun mulia. Namun bagi Ondeng jembatan itu tetaplah mimpi, ia tak pernah bisa melihat hasil jembatan yang ia impikan.

     JP bertutur dengan sederhana namun bersahaja. Saya suka dengan keikhlasan, kejujuran, kepedulian dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam JP meski penulis skenario terkadang terlalu khawatir bahwa pesannya tidak sampai sehingga ia harus menegaskan dengan kata-kata apa yang sudah ia sampaikan dengan visual.

     Terlepas dari itu semua, film yang disutradarai oleh Hasto Broto itu amat sangat sayang untuk dilewatkan. Selamat menonton!